Pada artikel sebelumnya anda telah mengenal mesin stamper yang umum digunakan lengkap dengan spesifikasi dan penjelasan seputar bagian – bagian dari mesin tersebut. Dari artikel tersebut juga, anda sekilas telah mengetahui fungsi utamanya. Untuk itu kali ini kita akan coba mengulas lebih jauh seputar penggunaan serta cara mengoperasikan alat pemadat stamper.

 

Penggunaan Alat Stamper di Projek Konstruksi Gedung dan Infrastruktur

Benang merah dari penggunaan alat ini adalah pada pekerjaan di area timbunan baik itu untuk lahan pembangunan gedung maupun infrastruktur seperti jalanan, pondasi jembatan, dan sebagainya.  Pemanfaatan mesin pemadat tersebut dapat diterapkan untuk berbagai jenis material timbunan. Diantaranya seperti tanah, krikil, puing – puing beton, serta beberapa jenis material lainnya.

Tujuan diaplikasikannya alat stamper untuk memadatkan timbunan ialah agar hasil pemadatan sempurna sehingga resiko terjadinya penurunan permukaan timbunan (ambles) saat bangunan atau infrastruktur selesai dibangun dan digunakan dapat dicegah.

Jadi secara tidak langsung stamper nyatanya berperan dalam menciptakan pondasi konstruksi gedung yang kokoh. Pada pengerasan jalanan alat ini pun sangat berguna untuk menghasilkan kekuatan di dasar ruas jalan sebelum kemudian timbunan utama (kerikil, aspal, dan lain – lain) diratakan menggunakan mesin vibro roller atau yang lazim disebut mesin silinder oleh masyarakat kita.

Namun untuk menghasilkan timbunan yang benar – benar padat dengan permukaan yang juga rata operator stamper harus mampu mengoperasikannya dengan sempurna dan penuh perhitungan. Berikut adalah uraian menganai cara menggunakan stamper yang patut diketahui.

 

Langkah Menggunakan Alat Pemadat Stamper

1. Pengecekan Kondisi dan Kesiapan Alat

Mengecek Alat Pemadat Stamper

Pertama saat alat pemadat stamper baru saja diambil dari penyimpanan adalah wajib untuk melakukan pengecekan terkait kondisi dan kesiapan alat.

Mula – mula perhatikan apakah ada bagian mesin yang terkendala atau tidak. Entah itu lepas, keropos, patah, atau masalah lainnya. Akan sangat berbahaya jika operator tidak menyadari kerusakan yang ada. Contohnya bila besi pegangan ada yang keropos dan patah. Muncul resiko lepasnya mesin ini dari kendali operator sehingga dapat menyebabkan kecelakaan kerja. Lebih detail lagi, setiap mur dan baut juga harus terpasang dengan kuat.

Untuk kesiapan alat memperhatikan keberadaan bahan bakar tentu menjadi hal pokok. Jadi pastikan sudah terisi, namun hindari kondisi tangki yang terlalu penuh. Guncangan saat alat beroperasi bisa membuat bahan bakar tumpah melalui celah tutup tangki.

2. Memastikan Kebugaran Operator dan Kelengkapan APD

Walaupun keberadaan mesin bermanfaat untuk menggantikan penggunaan tenaga manusia, tapi bukan bearti membuatnya tidak dibutuhkan sama sekali. Sebelum mengoperasikan alat stamper operator harus lebih dulu memastikan dirinya benar – benar fit. Perlu diingat bobot dari alat ini lumayan berat. Maka dari itu jika operator sedang kurang sehat atau kelelahan disarankan tidak mengoperasikan stamper lebih dulu.

Jika memang keadaan tubuh sudah memadai untuk melakukan pekerjaan ini yang tidak boleh terlewatkan adalah kelengkapan APD.

APD merupakan singkatan dari Alat Pelindung Diri dan umum dipakai baik oleh pekerja manufaktur maupun konstruksi. Kelengkapannya mencakup sarung tangan, sepatu, helm, kacamata, air plug, dan atribut safety lainnya sesuai kebutuhan.

3. Mulai Mengoperasikan Stamper

Mengoperasikan Stamper

Berlanjut dari dua langkah di atas dan semuanya sudah betul – betul diperhatikan serta dibenahi maka pengoperasian sudah boleh dilakukan. Mulailah dengan menghidupkan mesin ini. Lazimnya karena motor penggerak berjenis diesel cara menyalakannya adalah dengan membuka kran bahan bakar lalu menarik tali pada grip atau starter mesin.

Disarankan untuk dilakukan oleh dua orang, dimana satu orang memegangi alat pemadat stamper dan satu lagi menarik tali starter. Setelah menyala biarkan dalam keadaan diam untuk memanaskan mesin. Kurang lebih biarkan selama 3 menit hingga 5 menit.

Terakhir dalam mengoperasikan alat ini untuk memadatkan timbunan, pacu gerakan mesin secara perlahan – lahan. Operator pun harus menjaga kestabilan kecepatan serta perpindahan mesin di area pemadatan agar timbunan padat secara merata.