Merujuk pada Jepang, Berikut Ciri Rumah Tahan Gempa yang Wajib Ditiru Masyarakat Indonesia

Hampir senasib dengan Jepang, Indonesia juga langganan gempa tiap tahun. Ini semua tidak lepas dari letak geografisnya. Berada di kawasan The Pasific Ring of Fire  (Cincin Api Pasifik) dan terletak di antara beberapa lempeng serta memiliki ratusan jumlah gunung berapi yang masih aktif, tidak mengherankan jika Indonesia dilanda gempa setiap tahunnya. Skalanya mulai dari yang kecil hingga besar, sehingga gempa menjadi fenomena alam yang harus diantisipasi sejak dini.

Skala terhebat pernah terjadi pada tahun 2004 silam di Aceh dengan kekuatan 9,1 magnitudo disertai tsunami setinggi 35 meter yang menewaskan kurang lebih 227.000 jiwa.

Sutopo Purwo Nugroho, Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana dalam artikelnya yang berjudul Rumah Tahan Gempa: Penting Tapi Masih Sangat Terbatas menuliskan bahwa sebagian besar rumah yang rusak akibat gempa karena dibangun dengan konstruksi bukan tahan gempa.

Sudah sepatutnyalah jika setiap bangunan maupun rumah-rumah di Indonesia didesain khusus agar tahan terhadap guncangan. Hal tersebut sesuai dengan anjuran BNPB agar tiap-tiap rumah dibangun dengan konstruksi tahan gempa. Lalu seperti apa ciri rumah tahan gempa?

Struktur Bangunan yang Kuat

Berdasarkan pedoman Dinas Pekerjaan SNI 03-1726-2002 tentang Tata Cara Perencanaan Ketahanan Gempa, prinsip utama dalam konstruksi tahan gempa meliputi: denah yang sederhana dan simetris, bahan bangunan seringan mungkin, serta sistem konstruksi yang memadai.

Salah satu syarat struktur gedung ditetapkan sebagai gedung beraturan yaitu apabila tinggi struktur gedung diukur dari taraf penjepitan lateral tidak lebih dari 10 tingkat atau 40 meter. Begitu pula dengan massa lantai yang harus selaras dengan perbedaan berat per tingkat, yaitu <150%. Sementara jika struktur gedung tak beraturan, analisis respon dinamik harus dilakukan sebagai pengaruh pembebanan gempa dinamik.

Baca juga : Mengenal Pola Pengerjaan yang Wajib Diikuti Saat Memperhitungkan Rancangan Kerangka Beton

Sayangnya di Indonesia, sebagian besar rumah maupun gedung-gedung dibangun tidak sesuai dengan konstruksi bangunan yang tahan gempa karena beberapa alasan klasik dan tak berubah sejak dahulu, di antaranya faktor ekonomi, minimnya pengetahuan masyarakat, letak tata ruang, dan lain-lain.

Berbeda dengan Jepang, gedung-gedung di negeri sakura tersebut didirikan sesuai standar konstruksi tahan gempa. Bahkan pemerintah di sana senantiasa melakukan uji ketahanan gempa pada setiap gedung baru dibangun.

Pondasi yang Kokoh

Dalam sebuah konstruksi bangunan, beton digunakan sebagai pondasi. Kekuatan pondasi didukung oleh seberapa bagus kualitas bahan dan campuran tambahan (admixture) dan metode pemadatan beton. Merujuk pada SNI 2493:2011 Tata Cara Pembuatan dan Perawatan Beton di Laboratorium, salah satu metode pemadatan yang biasa digunakan adalah penggetaran atau vibrator. Metode pemadatan dengan cara vibrator ini terbagi atas vibrator eksternal dan internal.

Durasi getaran yang dibutuhkan oleh metode tersebut tergantung pada tingkat kemudahan pengerjaan beton dan keefektifan vibrator. Biasanya penggetaran dilakukan hingga permukaan beton melicin hingga beton mencapai kepadatan yang diperlukan.

Metode pemadatan vibrator internal dilakukan dengan cara memberikan vibrasi atatu getaran dari dalam wadah adukan beton. Mekanismenya cukup memasukkan alat pemadat hingga kedalaman kira-kira 45 cm.

Sebaliknya, proses pemadatan vibrator eksternal dilakukan dengan memberikan getaran dari bagian luar. Mekanismenya dengan menempelkan mesin pada cetakan.

Menurut Inayah dalam “Pengaruh Metode Pengecoran Terhadap Kapasistas Lentur Balok Beton Bertulang”, beton merupakan material utama yang memiliki peranan penting dalam pelaksanaan konstruksi bangunan. Pengaruh metode pemadatan beton akan menghasilkan kuat tekan pada beton secara seragam dan baik agar tahan terhadap guncangan atau gempa.